Semua amal harus di dasari dengan ilmu. Seorang yang tekun beribadah, sedangkan ia tidak mengetahui tata cara ibadah yang benar, maka ibadahnya rusak dan tidak sah. Ia mengira ibadahnya diterima oleh Allah ta’ala, padahal ibadahnya itu sama sekali tidak bernilai, bahkan seakan tidak ada. Alanngkah meruginya orang seperti in. karena itu seorang muslim hendaknya tidak, melakukan suatu perbuatan sebelum ia mengetahui hukumnya (tat cara yang benar sesuai dengan petunjuk syara’). Imam umar Ibn Abdul Aziz berkata : “barang siapa melakukan amal perbuatan tanpa didasari dengan ilmu, maka yang ia rusak lebih banyak daripada yang ia perbaiki”. Seorang yang tidak belajar ilmu agama mustahil menjadi orang yang bertaqwa apalagi menjadi seorang wali Allah. Karena definisi taqwa adalah menjalankan semua yang diwajibkan dan menjahui semua yang dilarang. Dengan demikian tidak mungkin seorang yang tidak mengetahui apa yang diwajibkan bisa menjalankanya, juga tidak mungkin seorang yang tidak mengetahui apa yang diwajibkan bisa menjalankanya, juga tidak mungkin seorang yang tidak mengetahui apa yang dilarang akan berusaha menjahuinya.

 

KEUTAMAAN DAN PERINTAH BELAJAR ILMU AGAMA

Ilmu agama adalah ruh Islam. Hidup dan berkembangnya Islam ditentukan oleh seberapa besar pemeluknya belajar dan memahami Islam. Karena itu posisi ulama menjadi sangat penting, ia merupakan pewaris tugas dari para Nabi. Rasulullah shalalluhu ‘alaihi wasalam telah menjelaskan bahwa ilmu akan hilang seiring dengan matinya para Ulama.

 

Mengingat begitu pentingnya ilmu agama, sehingga islam mewajibkan kepada setiap pemeluknya untuk mempelajarinya. Kewajiban ini berlaku untuk semua orang islam, apakah ia laki-laki, perempuan, tua, muda, rakyat jelata, pejabat, petani, pedagang, pengusaha, semua tak terkecuali asal dia masuk dalam kategori Mukallaf (baligh, berakal dan telah sampai kepadanya dahwah islam). Rasulullah shalalluhu ‘alaihi wasalam bersabda :

طلب العلم فريضة على كل مسلم (رواه البيهقى)

“Mencari (mempelajari) ilmu agama yang pokok adalah wajib bagi setiap muslim (baik laki-laki dan perempuan)”. (H.R al-Bayhaqi).

 

Di dalam al-Qur’an tidak ada satupun ayat yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad shalalluhu ‘alaihi wasalam untuk memohon tambahan dari sesuatu apapun kecuali memohon tambahan ilmu. Beliau tidak diperintahkan utnuk memohon tambahan harta, anak, jabatan ataupun perhiasan. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

وقل ربى زدنى علما

“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ya Tuhanku berilah aku tambahan ilmu” (Q.S. Thaha: 114)

 

Selain ayat dan hadits diatas masih banyak lagi ayat dan hadits yang menerangkan keuatamaan ilmu agama dan keutaman ulama, dan sebaliknya mencela kebodohan dan orang-orang bodoh. Diantara ayat-ayat misalnya dalm surat az-Zumar: 9, al-Imron: 18, al-Mujadalah: 11, Fathir:28, an-Naml: 40 dan Qoshosh: 80. Adapaun dari hadits, misalnya yang diriwayatkan dalam kitab sunan Ibn majah, bahwa ketika Rosulullah shalalluhu ‘alaihi wasalam masuk masjid, beliau mendapati dua kelompok manusia, satu kelompok sedang berdzikir dan yang lain sedang membahas ilmu agama. Rosulullah shalalluhu ‘alaihi wasalam memilih duduk bersama kelompok yang sedang membahas ilmu seraya berkata;

كلاالمجلسين على خير ولكن هذا المجلس أفضل ( رواه ابن ماجه )

“dua kelompok ini baik, hanya saja kelompok ini (yang membahas ilmu) lebih utama”. ( H.R. Ibn Majah).

Dalam hadits lain Rosulullah shalalluhu ‘alaihi wasalam bersabda yang maknaya: “keutamaan ahli dibandingkan ahli ibadah adalah seperti keutamaanku dibandingkan dengan orang yang paling rendah (derajatnya) diantara kamu”. (H.R. at-Tirmidzi dengan sanad shohih dari abu Umamah al-Bahili). Dalam hadits lain Rosulullah shalalluhu ‘alaihi wasalam bersabda yang maknanya: “barang siapa yang keluar (dari rumah) untuk menuntut ilmu maka (pahalanya) seperti orang yang berperang dijalan Allah (jihad fi sabilillah) sampai ia kembali”. (H.R. at-Tirmidzi). Dalam hadits lain Rosulullah shalalluhu ‘alaihi wasalam bersabda: “Wahai abu dzar, jika kamu pergi untuk mempelajari satu ayat dari al-Qur’an maka itu lebih baik daripada mengerjakan sholat (sunah) seratus rokaat dan jika kamu pergi untuk mempelajari satu bab ilmu maka itu lebih baik dari mengerjakan shalat (sunah) seribu rakaat”. (H.R. Ibn Majah dan lainya) dan masih banyak lagi dari hadits-hadits yang serupa

 

Selain dari al-Qur’an dan hadits, kita juga dapat menjumpai beberapa perkataan para ulama yang jelas tentang keutamaan belajar ilmu Agama. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I berkata:

طلب العلم افضل من صلاة النافلة

“mencari ilmu (mempelajarinya) lebih utama dari mengerjakan sholat sunnah”.

أن الاشتغال بالعلم اولى ما انفقت فيه نفائس الاوقات

“waktu yang paling berharga adalah yang dihabiskan untuk membahas ilmu”.

 

PEMBAGIAN ILMU AGAMA DAN HUKUM MEMPELAJARINYA

Sejarah garis besar ilmu agama dibagi menjadi dua bagian, pertama ilmu agama yang pokok (ad-Dhoruri). Hokum mempelajarinya adalah Fardli A’in seperti pokok-pokok ilmu aqidah dan pokok-pokok ilmu Ibadah. Kedua, ilmu agama yang apabila sudah dipelajari sebagian mukallaf maka sebagian yang lain gugur kewajibanya, hokum mempelajarinya adalah Fardlu kifayah seperti ilmu faroidl (waris), ilmu Qiro’at, menghafal al-Qur’an (kecuali surat al-Fatihah).

 

Kemudian bagian ilmu agama yang pokok (ilmu ad-Din ad-Dhoruri) terbagi lagi menjadi dua bagian. Pertama, yang wajib diketahui oleh setiap mukallaf siapapun dia, kaya atau miskin, tua atau muda, tanpa kecuali, misalnya pokok-pokok ilmu aqidah, pokok-pokok ilmu ibadah (seperti bersuci, shalat dan puasa), mengetahui hal-hal yang wajib dan yang dilarang bagi lidah, telinga, hati, dan anggota badan lainya serta cara bertaubat dari dosa. Kedua, ilmu agama yang wajib diketahui ketika ada sebabnya, contohnya mengetahui tata cara zakat bagi yang sudah kewajiban untuk mengeluarkanya, tata cara Haji bagi yang mampu melaksanaknya, tata cara jual beli bagi yang akan melakukanya, tata cara nikah bagi yang akan melaksanakanya dan lainsebagainya.

 

Kemudian diantara semua ilmu agama, terdapat satu ilmu yang utama dan pertama kali harus dipelajari, ilmu itu adalah Ilmu Tauhid atau yang biasa disebut Ilmu Ushul. Hal ini disebabkan objek pepmbahasan ilmu tauhid adalah mengetahui Allah dan Rosul-Nya yang merupakan pengetahuan yang paling prinsip. Para ulama berkata: “keutamaan suatu ilmu itu tergantung pada kemuliaan atau keutamaan objek yang dibahas”. Allah ta’ala dalam al-Qur’an surat Muhammad : 19  berfirman

فاعلم أنه لااله الا الله واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات

“Ketahuilah bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak dan wajib disembah kecuali Allah dan mintalah ampun atas dosa-dosamu”. (Q.S. Muhammad: 19).

Perintah dari kalimat pertama pada ayat diatas berhubungan dengan ilmu tauhid, sedangkan perintah dari kalimat kedua (perintah beristighfar) berhubungan dengan ilmu furu’ (cabang). Didahulukanya perintah mengetahui ilmu tauhid atas ilmu furu’ menunjukkan keutamaanya. Imam abu hasan al-asy’ari berkata:

اول ما يجب على العبد العلم بالله ورسوله ودينه

“ilmu yang pertam kali wajib diketahui oleh seorang hamba adalah ilmu tentang Allah dan Rosul-Nya dan ilmu tentang urusan agama”.

 

Perhatian para ulama terhadap ilmu tauhid sangat besar. Perhatian itu mereka realisasikan dalam bentuk pengajaran dalam pratek dan tulisan. Imam Muhammad bin idris asy-syafi’I menulis sebuah kitab yang berjudul al-qiyash, beliau mengatakan bahwa alam dan segala isinya adalah Qodim (ada tanpa permulaan). Beliau juga menulis kitab ar-Riyadd ‘ala al-barohimah. Imam abu hanifah menulis lima kitab sekaligus tentang ilmu tauhid yaitu al-Fiqh al-Akbar, al-Fiqh al-Abshath, ar-Risalah, al-‘Alim wa al-Muta’alim dan al-Washiyyah. Dan masih banyak lagi yang secara rinci menulis kitab-kitab tentang ilmu tauhid.