Masa muda adalah masa yang penuh dengan berontak kejiwaan dalam setiap sepak terjang. Ekpresi-ekpresi inovatif kerap didemontrasikan meski terkadang palsu karena sekedar meniru dan bukan dari jatidiri yang sesungguhnya. Salah satu trend muda-mudi dewasa ini adalah menyemir rambut dengan aneka warna seperti kuning, merah, hijau, biru dll. Mereka yang sedikit tahu hokum, membubuhi gayanya dengan dalil sunah menyemir rambut dengan memakai warna kuning dan sebagainya asalkan bukan hitam. Pertanyaanya adalah masih relevankah menyemir rambut dengan warna kuning atau merah, sementara dewasa ini warna warni tersebut sudah identik dengan gaya orang fasiq.

 

Jawabnya, dalam persepektif hokum islam, karakter hokum yang dibentuk atas dasar kultur, tradisi dan social budaya bersifat dinamis sesuai dengan denyut nadi perkembangan zaman. Lain halnya dengan hukum-hukum yang dibangun bukan atas dasar aspek diatas, maka bersifat statis sebagaimana hokum denda pembunuhan dengan modus sengaja, maka kapan, di mana dan bagaimanapun situasinya hokum qishosh tidak akan mengalami perubahan.

 

Terdapat beberapa data riwayat yang berkaitan dengan masalah semir, di antaranya hadits;

أتي بأبى قحافة يوم فتح مكة ورأسه ولحيته كالغامة بياضا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم غيروا هذا بشيئ واجتنبوا السواد

Artinya : “ Nabi Sholallohu’alaihiwasalam didatangi sahabat abi Quhafah pada waktu terbukanya kota makah, dalam keadaan kepala dan dagunya seperti tumbuhan yang berwarna putih, kemudian Nabi Sholallohu’alaihiwasalam berkata : ubahlah uban kalian dengan sesuatu (semir) dan jauhilah dengan warna hitam”.

 

Dan dalam riwayat hadits lain disebutkan

إن اليهود والنصارى لايصبغون فخالفوهم

Artinya : “sesungguhnya orang Yahudi dan Nasrani tidak mewarnai rambutnya maka tampil bedalah dengan meraka”

 

Dari beberapa hadits ini, ulama mensinyalir bahwa ilat sunah hokum menyemir rambut dengan warna selain hitam adalah demi menampakkan perbedaan dengan tradisi orang kafir yang sangat dianjurkan, sebab meniru atau menyerupai gaya atau tradisi kafir berarti masuk dalam golonganya sebagaiman sabda  Rosulullah;

من تشبه بقوم فهو منهم

Artinya : “barang siapa menyerupai dengan kaum, maka ia menjadi bagianya”

 

Tasyabuh (menyerupai orang lain) adalah sebuah konsep yang mengacu pada relativitas ruang dan waktu, tradisi dan corak budaya saat itu dan di situ tidak bisa dijadikan sebagai acuan hokum saat ini dan di sini. Lantaran itulah Hujjah al-islam al-Ghozali menyatakan bahwa kesunahan apabila telah menjadi syi’ar ahli bid’ah maka tidak boleh dilakukan, karena khawatir akan menyerupai mereka.

 

Dari sini bisa dirumuskan bahwa hokum menyemir dengan warna kuning atau merah yang telah menjadi trend fasiq tidak disunahkan lagi bahkan haram apabila terdapat nuansa tasyabuh. Atau ada tujuan yang tidak di benarkan oleh syariat seperti pamer, sombong  dan lain-lain, karena yang demikian tergolong tabdzir al-mal (menghambur-hamburkan harta) yang dilarang agama. Allah SWT berfirman;

ولاتبذر تبذيرا إن المبذرين كانوا اخوان الشياطين

Artinya : “dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu), sesungguhnya orang yang menghambur-hamburkan harta itu adalah saudara syetan”