A. Tanzihullah

Mengenal Allah (ma’rifatullah) artinya mempercayai dengan sepenuhnya bahwa Allah ta’ala ada (maujud) dan tidak ada sekutu bagi-Nya pada dzat, sifat dan perbuatan (af’al)-Nya. Artinya Allah tidak serupa sesuatupun dari makhluk-Nya. Keyakinan seperti ini dikenal dalam istilah tauhid dengan tanzih. Tanzih adalah prinsip keyakinan bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya. Allah ta’ala berfirman;

ليس كمثله شيئ

Artinya : “Dia (Allah) tidak menyerupai suatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi) dan tidak ada suatupun yang menyerupai dari-Nya”. (Q.S. as-syura: 11)

 

Karena prinsip inilah ahlussunnah menyakini bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah, tanpa disifati dengan sifat-sifat makhluk-Nya ayat diatas adalah ayat yang paling jelas dalam al-qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya.

 

Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al-jawhar al-fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim). Benda yang dapat terbagi-bagi ini, terbagi menjadi dua macam ;

  1. Benda lathif : sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
  2. Benda katsif : sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan, seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.

Sedangakn sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’al tidak menyerupai pada makhluk-Nya, ia bukan merupakan Juwhar al-fard, juga bukan benda lathif atau benda katsif. Dan ia tidak boleh di sifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil  bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan ada banyak yang serupa denga-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (Panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan yang demikian itu adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikanya dalam dimensi tersbut.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كان الله ولم يكن شئ غيره (رواه البخارى والبيهقى وابن الجارود)

Artinya : “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada suatupun selai-Nya (HR. al-Bukhori, al-Baihaqi dan Ibn Jarud)

 

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

 

Maka sebagaimana dapat di terima oleh akal, wujud Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafsiran atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sayyidina Ali ibn abi tholib

كان الله ولا مكان وهو الان على ما عليه كان

Artinya : “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-farq bayna al-firaq H. 333).

 

Al-Imam As-sajjad Zain Al-Abidin Ali ibn Al-Husain ibn abi tholib berkata :

أنت الله الذى لا يحويك مكان  (رواه الحافظ الزبيدي)

Artinya : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat” (diriwayatkan oleh al-Hafidz az-Zabadi dalam al-Ithaf dengan rangkaian sanad yang muttashil mutasalsil yang kesemua perowinya adalah ahl al bayt ; keturunan Rosulullah).

 

Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tanganya kea rah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunya rahmat dan berokah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan sholat, ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi  karena ka’bah adalah kiblat sholat. Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama ahlussunnah wal jama’ah seperti al-Imam al-mutawali (W.478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah al-Imam al-Ghizali (W.505 H) dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulum Ad-Diin, al-Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al-Imam Taqiyy ad-Din as-Subki (W. 756 H) dalam kitabnya as-Sayf ash-Shoqil dan masih banyak lagi.

 

Al-Imam abu ja’far ath-Thahawi (227-321 H) berkata

تعالى (بعنى الله) عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات لاتحويه الجهات الست كسائر المبتدعات

Artinya : maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

 

Perkataan Al-Imam abu ja’far ath-Thahawi diatas adalah ijma’ (konsensus) para sahabat dan salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abat pertama hijriyah). Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi’roj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad shalalluhu ‘alaihi wasalam naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’roj adalah memulyakan Rosulullah shalalluhu ‘alaihi wasalam dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana penjelasan dalam al-Qur’an surat al-Isro’ ayat 1.

 

Jadi, tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. al-Imam Abu hasan al-Asy’ari (W. 324 H) berkata :

إن الله لا مكان (رواه البيهقى فى الاسماء والصفات)

Artinya : “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Asma’ wa Shifat).

Beliau juga mengatakan : “tidak boleh dikatakan bahwa Allah ta’ala di satu tempat atau semua tempat”. Perkataan al-Imam al-Asy’ari ini dinukil oleh al-Imam ibn furak (W.406 H) dalam karyanya al-Mujarod. Syekh Abdul Wahab asy-Sya’roni (W.973 H) dalam kitabnya al-Yawaqit wa al-Jawahir menukil perkataan syekh ali al-Khowwash  : Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana”. Aqidah yang mestinya di yakini bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

 

Perkataan al-Imam ath_thohawi di atas juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al-Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhlu-Nya atau pengikut paham hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati bahwa Allah sebagian makhluk-Nya . dan ini adalah kekufuran berdasarkan ijma’ (consensus) kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al-Imam ash_shuyuti (W.911 H) dalam karyanya al-Hawi li al-Fatawi dan lainya, juga para panutan kita ahli tasawuf sejati seperti al-Imam al-Junaidi al-Baghdadi (W. 297 H), al-Imam Ahmad ar_Rifa’I (W.578 H), Syekh Badul Qodir al-Jaelani (W. 561 H) dan semua Imam Tasawuf sejati, mereka selalu memperinagatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawuf dan menyakini aqidah Wahdah al-Wujud dan Hulul.

 

Al-Imam Ahmad Ibn Hanbal (W.241 H) dan al-Imam Dzu an-Nun al-Misyri (W. 245 H) salah seorang murid terkemuka al_imam Malik menturkan kaidah yang sangat bermanfaat dalam ilmu tauhid :

مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك

Artinya : “Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tantang Allah), maka Allah tidak sepeti itu”. (diriwayatkan dari Imam Ahmad Ibn Hanbal oleh Abu al Fadl at-Tamimi dalam kitabnya I’tiqat al-Imam Mubajjal Ahmad Ibn Hanbal dan diriwayatkan dari Dzu an-Nun al-Mishri oleh al-Hafidz al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad).

 

Sebagaimana kita tidak bisa membayangkan suatu masa –sedangkan masa adalah makhluk –yang di dalamnya tidak ada cahaya dan kegelapan, akan tetapi kita beriman dan membenarkan bahwa cahaya dan kegelapan, keduanya memiliki permulaan. Keduanya tidak ada kemudian menjadi ada. Allah jualah yang menciptaka keduanya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an ;

وجعل الظلمات والنور

Artinya : “Dan Allah yang telah menjadikan kegelapan dan cahaya” (QS. Al an’am: 1)

 

Jika demikian halnya yang terjadi pada makhluk, maka lebih utama kita beriman dan percaya bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak bisa kita bayangkan.

 

Jadi keyakinan umat islam dari kalangan salaf dan kholaf bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah dan tidak dapat dibayangkan Dzat-Nya, bukan seperti keyakinan sebagian orang yang meyakini bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas arsy. Keyakinan ini adalah penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, karena duduk adalah salah satu sifat manusia. Para ulama salaf bersepakat bahwa barangsiapa yang mensifati Allah dengan salah satu sifat diantara sifa-sifat manusia maka ia telah keluar dari islam (kafir). Sebagaimana hal ini di tulis oleh imam ath-Thohawi (227 – 321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal dengan nama Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyah, beliau mengatakan :

ومن وصف الله بمعنى من معانى اليشر فقد كفر

Artinya : “barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.

 

b. Sifat-sifat Allah

para ulama menetapkan adanya tiga belas sifat wajib Allah (13 sifat yang pasti dimiliki Allah), yang sering terulang penyebutanya dalam Al-Qur’an, baik dengan lafadz maupun maknanya saja, yaitu :

  1. Al-Wujud (Allah ada)
  2. Al-Wahdaniyyah (tidak ada sekutu bangi-Nya pada dzat, sifat dan perbuatan-Nya)
  3. Al-Qidam (tidak bermula)
  4. Al-Baqo’ (tidak berakhir)
  5. Qiyamuhu binafsihi (tidak membutuhkan kepada yang lain dan segala sesuatu membutuhkan kepada-Nya)
  6. Al-Qudroh (maha kuasa)
  7. Al-Irodah (berkehendak)
  8. Al-‘Ilmu (mengetahui segala sesuatu)
  9. As-Sam’u (mendengar segala sesuatu)

10.  Al-Bashor (melihat segala sesuatu)

11.  Al-Hayat (yang maha hidup)

12.  Al-Kalam (berbicara dengan kalam yang bukan huruf, suara dan bahasa)

13.  Al-Mukholafah li al-Hawadits (maha suci dari menyerupai segala yang baru)

 

Karena sifat-sifat ini banyak penyebutanya dalam teks0teks syari’at, para ulama mengatakan: wajib atas setiap mukalaf (Wajib ‘Ain) untuk mengetahuinya. Dan karena Dzat Allah adalah azali (tidak bermula), maka demikian pula sifat-sifat-Nya pasti (wajib) Azali, karena kebahuan sifat suatu Dzat mengharuskan kebaharuan Dzat tersebut.

 

Wa Allahu a’lam.

Semoga bermanfaat amiin ….